Profil Blog

Sabtu, 19 September 2015

Pandit Bane Musalmaan, Pendeta Hindu dari India Yang Menjadi Muallaf

Pandit Bane Musalmaan
Pandit bane Musalmaan, 42 tahun, warga negara India, duduk dengan pulpen dan pikiran penuh dengan sesuatu. Ia menulis kisah hidupnya, Pandit bane Musalmaan nama panggilan di tempat kelahirannya, ia sebelumnya adalah seorang Pendeta Hindu dari India yang memeluk Islam. Namanya pun berganti Abdur Rahman.
Warga negara India ini bekerja sebagai penjaga toko di Saudi Bin laden BTAT, pada Proyek King Abdul Aziz Endowment, salah satu perusahaan konstruksi yang menangani proyek di sebrang masjidil Haram Mekkah.
Sebelum datang ke Jeddah dan memeluk Islam, Abdur Rahman dikenal sebagai Sushil Kumar Sharma. Kampung halamannya di Amadalpur, sebuah desa kecil di Haryana, negara bagian India sebelah utara. Ia lahir dalam keluarga Hindu ortodoks dengan keistimewaan memimpin ritual keagamaan di kuil desa.
Saat tinggal di tempat penampungan perusahaan di Jeddah, seorang kawan memberinya beberapa buku Islam dalam bahasa Hindi. Ia kemudian dipindahkan ke Riyadh untuk bekerja pada sebuah proyek di kampus perempuan Universitas Putri Noura. “Di tempat penampungan itulah saya bertemu sejumlah Muslim dari India dan Pakistan yang menjelaskan tentang agama Islam kepada saya,” tutur Sharma.
Salah satu di antara mereka adalah sahabat karib Sharma. Namanya Salim, berasal dari Rajasthan—sebuah negara bagian di barat laut India. Mereka berdua tinggal dalam satu kamar. Saat-saat senggang, Salim menceritakan kisah-kisah nabi dalam Islam dan membacakan hadis Rasulullah SAW. “Hati saya bergetar. Dan saya mulai bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa yang akan terjadi padaku setelah mati? Apakah aku akan masuk neraka selamanya karena dosa-dosaku? Saya takut dengan azab kubur bagi orang-orang berdosa dan kafir,” ungkap Sharma.
Ia pun mulai menghabiskan malam tanpa dapat memejamkan mata. Ia merasa sudah waktunya untuk memeluk Islam dan menjadi seorang pengikut Nabi Muhammad yang setia. Akhirnya, pencarian panjang Sharma akan kebenaran menemui ujungnya. “Keesokan harinya, saya mengungkapkan niat untuk memeluk Islam kepada Salim dan rekan-rekan lain di penampungan. Ada sorak kegirangan di tempat kerja kami. Semua orang bahagia, mereka mengucapkan selamat dan memelukku,” kenang Sharma.
“Bagi saya, Islam itu adalah sistem persaudaraan universal yang tidak mengenal kasta, perbedaan, warna kulit, atau ras. Inilah yang membuat saya tertarik pada Islam,” ujarnya.
Esok harinya, digelar pertemuan dengan para anggota Kantor Koperasi untuk Panggilan dan Bimbingan di Al-Batha, Riyadh. Imam masjid di penampungan menuntun Sharma mengucapkan dua kalimat syahadat. “Saya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sepenuh hati, menerima Allah sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Imam masjid juga menyarankan saya untuk mengganti nama menjadi Abdur Rahman. Saya pun menerimanya,” kenang Sharma.
Setelah itu, Sharma alias Abdur Rahman dipindahkan ke Bahra, sebuah kota yang terletak di dekat jalan raya Makkah-Jeddah. Mandor proyek juga senang mengetahui dirinya telah memeluk Islam. Sang mandor pun bersikap baik padanya dan kerap mengulurkan bantuan. “Namun, saya ingin dekat dengan Tuhan,” kata Rahman. “Saya berdoa kepada Allah agar memindahkan saya ke Makkah. Alhamdulillah, doa saya dikabulkan. Saya pun dipindahkan ke tempat kerja yang dekat dengan Masjidil Haram.”
Pulang kampung dan berdakwah
Kini, Abdur Rahman memiliki tugas besar; menyampaikan pesan-pesan Islam kepada anggota keluarganya. Ia memiliki seorang istri dan dua putra; tujuh tahun dan 16 enam belas tahun.
Ia pun telah memberitahu keluarganya via telepon, bahwa dirinya telah memeluk Islam dan menjadi seorang Muslim. Awalnya, mereka tidak percaya. Istrinya mengatakan akan menentukan sikap setelah Rahman pulang kampung saat libur nanti. “Tiap hari saya berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT agar membimbing keluarga saya ke jalan yang lurus, dan melembutkan hati mereka untuk menerima Islam,” kata Rahman dengan air mata berlinang.
Rahman juga sadar—sebagai bekas pendeta yang dihormati—akan menghadapi banyak tentangan dari saudara, teman dan kerabat satu desanya. Namun, ia bertekad menghadapi mereka dengan dakwah dan hikmah. “Saya yakin Allah akan membantu saya,” ujarnya.
Abdur Rahman juga berpesan kepada semua orang, “Saya ingin menyampaikan pesan ke seluruh non-Muslim di dunia untuk menerima Islam, agar mereka selamat di dunia dan akhirat.”

Pandit bane Musalmaan, 42 tahun, warga negara India, duduk dengan pulpen dan pikiran penuh dengan sesuatu. Ia menulis kisah hidupnya, Pandit bane Musalmaan nama panggilan di tempat kelahirannya, ia sebelumnya adalah seorang Pendeta Hindu dari India yang memeluk Islam. Namanya pun berganti Abdur Rahman.
Warga negara India ini bekerja sebagai penjaga toko di Saudi Bin laden BTAT, pada Proyek King Abdul Aziz Endowment, salah satu perusahaan konstruksi yang menangani proyek di sebrang masjidil Haram Mekkah.
Sebelum datang ke Jeddah dan memeluk Islam, Abdur Rahman dikenal sebagai Sushil Kumar Sharma. Kampung halamannya di Amadalpur, sebuah desa kecil di Haryana, negara bagian India sebelah utara. Ia lahir dalam keluarga Hindu ortodoks dengan keistimewaan memimpin ritual keagamaan di kuil desa.
Saat tinggal di tempat penampungan perusahaan di Jeddah, seorang kawan memberinya beberapa buku Islam dalam bahasa Hindi. Ia kemudian dipindahkan ke Riyadh untuk bekerja pada sebuah proyek di kampus perempuan Universitas Putri Noura. “Di tempat penampungan itulah saya bertemu sejumlah Muslim dari India dan Pakistan yang menjelaskan tentang agama Islam kepada saya,” tutur Sharma.
Salah satu di antara mereka adalah sahabat karib Sharma. Namanya Salim, berasal dari Rajasthan—sebuah negara bagian di barat laut India. Mereka berdua tinggal dalam satu kamar. Saat-saat senggang, Salim menceritakan kisah-kisah nabi dalam Islam dan membacakan hadis Rasulullah SAW. “Hati saya bergetar. Dan saya mulai bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa yang akan terjadi padaku setelah mati? Apakah aku akan masuk neraka selamanya karena dosa-dosaku? Saya takut dengan azab kubur bagi orang-orang berdosa dan kafir,” ungkap Sharma.
Ia pun mulai menghabiskan malam tanpa dapat memejamkan mata. Ia merasa sudah waktunya untuk memeluk Islam dan menjadi seorang pengikut Nabi Muhammad yang setia. Akhirnya, pencarian panjang Sharma akan kebenaran menemui ujungnya. “Keesokan harinya, saya mengungkapkan niat untuk memeluk Islam kepada Salim dan rekan-rekan lain di penampungan. Ada sorak kegirangan di tempat kerja kami. Semua orang bahagia, mereka mengucapkan selamat dan memelukku,” kenang Sharma.
“Bagi saya, Islam itu adalah sistem persaudaraan universal yang tidak mengenal kasta, perbedaan, warna kulit, atau ras. Inilah yang membuat saya tertarik pada Islam,” ujarnya.
Esok harinya, digelar pertemuan dengan para anggota Kantor Koperasi untuk Panggilan dan Bimbingan di Al-Batha, Riyadh. Imam masjid di penampungan menuntun Sharma mengucapkan dua kalimat syahadat. “Saya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sepenuh hati, menerima Allah sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Imam masjid juga menyarankan saya untuk mengganti nama menjadi Abdur Rahman. Saya pun menerimanya,” kenang Sharma.
Setelah itu, Sharma alias Abdur Rahman dipindahkan ke Bahra, sebuah kota yang terletak di dekat jalan raya Makkah-Jeddah. Mandor proyek juga senang mengetahui dirinya telah memeluk Islam. Sang mandor pun bersikap baik padanya dan kerap mengulurkan bantuan. “Namun, saya ingin dekat dengan Tuhan,” kata Rahman. “Saya berdoa kepada Allah agar memindahkan saya ke Makkah. Alhamdulillah, doa saya dikabulkan. Saya pun dipindahkan ke tempat kerja yang dekat dengan Masjidil Haram.”
Pulang kampung dan berdakwah
Kini, Abdur Rahman memiliki tugas besar; menyampaikan pesan-pesan Islam kepada anggota keluarganya. Ia memiliki seorang istri dan dua putra; tujuh tahun dan 16 enam belas tahun.
Ia pun telah memberitahu keluarganya via telepon, bahwa dirinya telah memeluk Islam dan menjadi seorang Muslim. Awalnya, mereka tidak percaya. Istrinya mengatakan akan menentukan sikap setelah Rahman pulang kampung saat libur nanti. “Tiap hari saya berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT agar membimbing keluarga saya ke jalan yang lurus, dan melembutkan hati mereka untuk menerima Islam,” kata Rahman dengan air mata berlinang.
Rahman juga sadar—sebagai bekas pendeta yang dihormati—akan menghadapi banyak tentangan dari saudara, teman dan kerabat satu desanya. Namun, ia bertekad menghadapi mereka dengan dakwah dan hikmah. “Saya yakin Allah akan membantu saya,” ujarnya.
Abdur Rahman juga berpesan kepada semua orang, “Saya ingin menyampaikan pesan ke seluruh non-Muslim di dunia untuk menerima Islam, agar mereka selamat di dunia dan akhirat.

Tan Lip Siang, Perjalanan dari Kristen dan Budha, akhirnya Masuk Islam

Kisah Muallaf
Segala puji bagi Allah SWT karena siapa yang mendapat petunjuk-Nya, maka tidak ada yang bisa menyesatkan. Juga sebaliknya, bagi mereka yang disesatkan oleh Allah SWT, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. “Aku bersaksi tidak ada tuhan melainkan Allah, Allah Maha Esa, tidak ada sekutubagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, penutup segala nabi, dan tidak ada nabi lagi sesudahnya.”
Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat ini, saya memberikan pernyataan resmi masuk agama Islam di hadapan kelompok pengajian yang dipimpin oleh guru Erwin Saman. Tepatnya pada tahun 1975. Kini, nama saya bukan lagi Tan Lip Siang. Nama saya sekarang lengkapnya H.M. Syarif Siangan Tanudjaya, S.H.
Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, menjelang usia saya ke-55, tidak ada salahnya dalam kesempatan baik ini, saya manfaatkan untuk bercerita tentang kisah hidup saya menuju jalan yang diridhai Allah SWT. Saya adalah pejabat notaris yang diangkat oleh pemerintah untuk wilayah kerja Kodya Bekasi, Jawa Barat.
Dalam kisah ini, saya tidak bermaksud untuk mencela, atau menghina agama (kepercayaan) yang saya anut sebelumnya. Berawal dari hati yang selalu resah, disebabkan penderitan hidup dari hidup yang biasa senang, berbalik menderita. Saya mulai dari agama Kristen, yang saya imani pada saat itu.
Pada ajaran agama Kristen, saya temukan dan saya ketahui adalah ketentuan-ketentuan akan dosa warisan. Maksudnya, akibat dosa Adam dan Hawa, mengakibatkan manusia menanggung “dosa warisan”. Artinya, sekalipun bayi yang baru dilahirkan, sudah harus dianggap tidak suci lagi, akibat “dosa warisan” Adam dan Hawa itu.
Namun, apabila kita menyimak dengan lebih teliti pada ayat-ayat Alkitab selanjutnya, setelah saya baca, ada hal yang sulit dipahami menyangkut “dosa warisan”. Misalnya, ketika Yesus ditanya oleh seorang Farisi, “Apakah yang menyebabkan anak tersebut menjadi cacat? Mungkinkah karena dosa kedua orang tuanya atau dosa siapa?”
Yesus menjawab kepada orang Farisi tersebut, “Anak ini menjadi cacat, akibat dosa ibu-bapaknya dan bukan dosanya sendiri. Tetapi karena Allah akan memperlihatkan kasih-Nya.”
Dua ketentuan dalam kandungan Alkitab ini, sungguh membuat saya bingung. Sehingga pada saat itu saya sempat berpikir, mengapa Tuhannya orang Kristen membuat umatnya menjadi resah, hingga saya merasa kesulitan untuk menyimpulkan makna yang terkandung dalam ayat-ayat Alkitab?
Demikianlah, yang saya temukan dan saya ketahui mengenai ketentuan-ketentuan pokok dalam ajaran agama Kristen yang saya imani. Hakikat permasalahan hidup juga saya temukan adalah bagaimana caranya saya menghadapi dan lepas dari permasalahan hidup.
Saya tidak berkonsultasi lagi kepada pendeta, karena menurut saya, pendeta tidak pernah mampu memberikan solusi untuk permasalahan hidup saya. Pada akhirnya, iman saya kepada Yesus sirna, sebab belum mampu membuat hati saya tenteram dan mantap.
Kembali ke Budha
Cerita selanjutnya, saya berbalik kepada agama Budha dan Konghucu. Mulailah saya bersembahyang di vihara, lalu belajar meditasi, dan tidak makan daging atau yang bernyawa pada waktu-waktu tertentu (Cia-Cay), sembahyang penghormatan kepada arwah leluhur, kemudian sembahyang ke klenteng Toapekong (tempat penyembahan atau tempat ibadah kepada Tian, dewa-dewa orang Cina), untuk memohon Popi Peng An (keselamatan) dan hoki (peruntungan yang baik).
Sudah sedemikian jauh saya melangkah, ternyata petualangan saya menuju prinsip keimanan yang sesungguhnya, belum juga saya temukan. Sementara, perjalanan hidup saya saat itu, dari waktu ke waktu makin terasa sangat mencekam. Sebagai leveransir bahan bangunan, alat tulis kantor (ATK), dan pemborong, ternyata relasi saya banyak yang beragama Islam.
Dari mereka, saya mulai mengenal tata cara ibadah Islam. Misalnya, sebelum menunaikan ibadah shalat, seseorang harus terlebih dulu mengambil air wudhu (bersuci). Dan, yang lebih menarik perhatian saya adalah tentang kewajiban umat Islam menunaikan ibadah puasa, zakat, dan tentang pokok ajaran (akidah) ketuhanannya, yakni tauhid (mengesakan Allah), yaitu Allah itu Maha Esa (tunggal). la tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.
Mimpi Berkelahi
Sebelum saya menyatakan diri masuk agama Islam, lebih baik saya ceritakan pengalaman saya yang sungguh unik ini melalui mimpi.
Dengan penuh rasa takut saya berlari, dikejar oleh lima orang bersenjata yang hendak membunuh saya. Saya terpojok di suatu sudut. Para penjahat itu makin mendekat ke arah saya, dan tanpa saya sadari, tangan saya terasa menggenggam senjata sejenis keris. Lalu, dengan satu dorongan, entah mendapat kekuatan dari mana, saya berteriak, “Allahu Akbar” tiga kali. Sungguh menakjubkan, kelima penjahat bersenjata itu, semuanya musnah dan hangus bagaikan lembaran-lembaran kertas terbakar. Apa makna mimpi tersebut?
Tahap selanjutnya dan yang sangat utama, setelah membulatkan pendirian dan keyakinan, saya ingin memeluk agama Islam. Hal ini saya rundingkan terlebih dulu dengan kekasih saya. Keputusannya, Vera, kekasih saya itu, tidak keberatan saya memilih agama Islam.
Sejalan dengan perjalanan saya sebagai muallaf, dengan tuntunan taufik dan hidayah Allah SWT., Vera, pada tahun 1983 mendapat petunjuk ke jalan yang lurus. la menjadi muslimah dengan kesadarannya sendiri.
Kini, lengkap dan utuhlah sudah keluarga saya sebagai keluarga muslim, sebagai awal perjalanan hidup kami untuk mengukuhkan serta memantapkan pengabdian dan ibadah kami kepada Allah SWT, sebagaimana doa iftitah dalam shalat yang berbunyi : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata hanya untuk Allah seru sekalian alam. “

Islam Menjawab Semua Kebingunganku


Sejak kecil, Musa Cerantonio percaya akan ke beradaan Tuhan. Laki-laki asal Australia ini lahir dari ayah berdarah Italia dan ibu asal Irlandia.
Sejak kecil, orang tua telah menuntunnya menjadi seorang Katolik. Awalnya, dia bangga pada agamanya dan percaya bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling benar.
“Bagaimana tidak, saat itu jumlah umat Katolik paling banyak di dunia. Jumlah yang banyak tersebut tentu menumbuhkan keyakinan bahwa agama tersebut mengandung kebenaran,” ujarnya.
Meski bangga pada agama yang dianutnya, tetapi Musa dan keluarganya tidak benar-benar mempraktikkan ajaran Katolik. “Kami tidak datang ke gereja kecuali saat Natal atau ketika ada rekan seagama yang menikah atau meninggal.”
Musa pun mengecap pendidikan dasar di sekolah Katolik di Melbourne, Australia. Ketika itu, Musa sangat menyukai pelajaran agama. “Ketika bicara soal Injil, tentang nabi-nabi, entah mengapa saya sangat menyukainya,” katanya.
Tetapi, tetap saja kesukaan itu tidak lantas membuat Musa mengaplikasikan ajaran agamanya dengan benar. Meski demikian, kepercayaan pada agama membuat dia menerapkan batasan dalam hidupnya.
“Saat beranjak remaja saya berhasil menghindar dari tingkah laku buruk yang kerap dilakukan teman-teman seumuran saya. Mereka pergi ke klub, minum-minum, bahkan memakai obat-obatan,” tuturnya. Musa juga tidak berzina dengan perempuan yang dikencaninya.
Keyakinan pada Tuhan dan agama berhasil dipertahankannya hingga dia duduk di sekolah menengah. Ketika itu, Musa belajar di sekolah yang sangat liberal dan dijalankan oleh orang-orang dengan pemikiran yang sangat sosialis.
“Hal ini diterapkan dalam berbagai aspek di sekolah. Kami tidak perlu menggunakan seragam dan boleh memanggil guru kami dengan nama mereka. Saya benarbenar merasakan kebebasan di sana,” katanya.
Saat itu, Musa merasa bisa melakukan apa saja. Tetapi, kesenangan mendapatkan kebebasan buyar ketika sejumlah pemikiran sosialis yang diterimanya di kelas tidak sesuai dengan apa yang diyakininya.
“Semua guru di sekolah tersebut berusaha untuk mempromosikan paham sosialis. Mereka menyatakan kekagumannya pada Hitler atau ajaran Marxis,” katanya.
Lalu, saat bicara tentang agama, mereka akan mencela agama habis-habisan dan bercerita tentang Yesus atau Bunda Maria yang dipercayai Musa ketika itu dengan sangat vulgar. Mereka percaya bahwa agama dibentuk oleh manusia sendiri. “Dan, agama bagi mereka telah mati.”
Pandangan tersebut tidak rasional baginya. Musa percaya, manusia adalah makhluk yang lemah, yang selalu membutuhkan bantuan dalam hidupnya. Lalu, bagaimana mereka mampu menciptakan Tuhan?

“Saya kemudian mulai banyak berdebat dengan para guru maupun teman-teman di sekolah tentang paham tersebut. Berusaha untuk membenturkan sosialis dengan agama,”
tuturnya.
Dan, debat-debat tersebut selalu dimenangkan oleh Musa. Para sosialis tersebut tidak mampu memberikan jawaban yang masuk akal bila dihadapkan dengan agama. Sementara, Musa akan habis-habisan membela agamanya.
“Namun, semakin saya membela agama saya, semakin saya merasa tidak mengenal agama saya. Apakah agama yang saya perjuangkan ini benar-benar agama yang tepat,” katanya.
Kesadaran tersebut membuat Musa mulai mempelajari agamanya. “Saya pulang ke rumah, membuka kitab suci Katolik, dan membacanya dari halaman pertama,” kenangnya. Menurut Musa, ini kali pertama dia membaca kitab sucinya dengan serius.
Membaca Alkitab untuk pertama kalinya membuatnya syok. “Kata-kata yang digunakan dalam kitab tersebut cenderung kasar. Saya tidak membayangkan bila anak kecil membaca kitab tersebut,” kata dia.
Saat itulah, Musa mulai ragu. Pertanyaan muncul di benaknya, “Apakah benar kata-kata yang sangat vulgar tersebut berasal dari Tuhan?”
Di dalam kitab tersebut, misalnya, diceritakan tentang kisah kaum Nabi Luth yang menyukai insan sejenis dengan sangat vulgar.
Musa kemudian beralih membaca Kitab Perjanjian Lama. Kitab ini sudah tidak banyak lagi disentuh oleh umat Kristen.
“Saya juga terkejut karena di dalam kitab tersebut diberi tahu pentingnya memanjangkan jenggot. Kaget juga karena tidak ada satu pun pendeta yang memanjangkan jenggot mereka,” kata dia.
Kitab tersebut juga melarang umat Kristen untuk meminum alkohol dan makan babi. “Bagaimana mungkin, sementara di gereja kami kerap diminta untuk minum anggur. Sementara, babi adalah makanan yang paling disukai orang Kristen, apalagi orang keturunan Italia seperti keluarga saya,” ujarnya.
Terpikir olehnya, bagaimana mungkin Tuhan melarang banyak hal, tetapi tidak ada yang dijalankan oleh umat Kristen. Mereka berkompromi secara sepihak tentang larangan tersebut. “Mereka hanya melakukan sejumlah ajaran Tuhannya. Memilih yang mudah untuk dijalankan.”

Berislam dan Hijrah ke Mesir

Pada 2000, Musa mendapat ke sempatan mengunjungi Vat kan. Kesempatan ini ia gunakan untuk memulai pencariannya terhadap Tuhan.
“Saya mempelajari semua agama. Tetapi, saya sama sekali tidak menyentuh Islam,” tutur dia.
Dia baru berkenalan dengan Islam berkat seorang teman. Saat pertama kali mengenal teman tersebut, Musa melihat kebanggaan yang besar di dalam dirinya.
Sang teman memperkenalkan diri kepada Musa tanpa ragu. “Mari berteman dan apakah kamu tertarik masuk Islam?” kata Musa menirukan ucapan temannya yang Muslim itu.
Dia, lanjut Musa, menjawab keinginannya untuk lebih mengenal Islam. Sang teman dengan senang hati menjawab pertanyaan apa pun tentang Islam. Dia lalu memberikan Musa sebuah Al-Quran.
Tetapi, Musa tidak pernah membacanya. “Suatu hari, Al-Quran tersebut ditemukan oleh kakak saya dan dia membakarnya,” ujarnya.
Kejadian itu membuat Musa semakin bertanya-tanya. Mengapa ada orang seperti temannya yang masih tetap bertahan dengan keislamannya, padahal orang-orang di sekelilingnya membenci agama tersebut.
Musa kemudian bertemu lagi dengan seorang teman beragama Islam yang berasal dari negara komunis. Dia menjelaskan kepada Musa bahwa Islam juga memercayai Yesus, tetapi Yesus dianggap sebagai nabi. Sama dengan Musa atau Muhammad, tak seperti pemahaman umat Kristen terhadapnya.
Sang teman juga menyatakan bahwa Islam hanya mengenal satu Tuhan dan tidak ada kompromi atas hal tersebut.
Dalam Islam, Tuhan tidak pula dianggap sebagai seorang laki-laki. Tidak juga seperti agama Yahudi yang memercayai bahwa roh Tuhan berasal dari roh roh laki-laki dan perempuan Yahudi.
Musa lalu membaca lebih banyak tentang Islam. “Saya baca, baca, dan baca. Saking banyaknya membaca, saya menjadi fasih menjelaskan tentang Islam,” tuturnya.
“Bahkan, saya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan teman-teman saya tentang Kristen dari apa yang saya baca dari hadis atau literatur Islam lainnya.”
Musa mulai datang ke masjid untuk melihat dan kadang belajar shalat. “Saya bahkan berpuasa selama sebulan, seperti Muslim lainnya saat Ramadhan,” tuturnya. Musa juga terus membaca dan mempelajari Al-Quran.
“Sekali saya memulai membacanya, saya tidak bisa berhenti. Dan ketika saya selesai membaca seluruh isinya, saat itu pula saya yakin untuk menjadi Islam.” Dia pun membaca syahadat dan menjadi seorang Muslim pada usianya yang ke-17 tahun.
Kini, ayah dari dua orang putri itu menikmati kehidupannya sebagai Muslim dengan damai dan penuh rasa bangga. Semua pertanyaan dan keraguannya selama ini terjawab sudah oleh Islam. Ia pun hijrah dari negara asalnya di Australia untuk hidup di negara dengan mayoritas Muslim, Mesir.
Hal tersebut dilakukannya agar bisa mempraktikkan dan mempelajari Islam secara lebih baik. Meski demikian, ia tidak memutuskan hubungan dengan tanah airnya dan terus berdakwah untuk kemajuan peradabaan Islam di negara asalnya. KisahMuallaf.com

Jumat, 18 September 2015

Melekh Yacov : Yahudi Hasidic yang kini berhijrah menjadi Muslim


Melekh Yacov lahir di New York. Ia dibesarkan dalam keluarga Yahudi Hasidic, kelompok Yahudi ultra-ortodoks. Berbeda dengan penganut Hasidic lain, keluarga Yacov tergolong biasa-biasa saja dalam menjalankan keyakinannya.
“Kami tidak seperti itu, kami tetap beraktivitas ketika hari sabat. Saya juga tidak mengenakan yarmulke di kepala. Yang pasti, keluargaku lebih banyak dipengaruhi kehidupan sekuler,” kenang Yacov.
Semasa muda, Yacov merasa tidak seperti orang Yahudi. Ia tidak lagi mempedulikan hari sabat. Ia juga sering mengkonsumsi makanan non halal. Yacov sadar, dirinya tidak lagi mematuhi aturan. Saat itu ia berpikir, apa yang ia lakukan merupakan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal semasa kecil, ia banyak mendengar cerita kisah para rabi seperti Eliezar, Baal Shem Tov dan Taurat.
Setiap cerita yang ia dengar menunjukan Yahudi sepanjang sejarah selalu ditindas. Selama itu pula, Tuhan bersama umatnya sampai akhir. “Bangsa kami selalu mendapat anugerah-Nya. Jika seseorang ingin memperoleh pandangan objektif tentang alasan orang Yahudi memiliki sikap zionis maka anda harus melihat bagaimana kami didoktrin sejak kecil. Itulah mengapa, kami seolah tidak pernah melakukan kesalahan apapun,” paparnya.
Yacov tahu betul bahwa orang Yahudi memiliki ikatan yang kuat satu dengan yang lain. Setiap orang Yahudi selalu memegang erat “umat pilihan” Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tapi ia tidak merasa nyaman dengan itu.
Ia masih ingat, betapa membosankannya saat ia diajak ayahnya mengunjungi sinagoga “Saya merasa aneh dengan melihat banyak orang bertopi hitam dengan janggut panjang lalu berdoa dengan bahasa Ibrani,” ucapnya.
Memasuki usia 13 tahun, Yacov menjalani proses khitan, atau dalam tradisi Yahudi disebut Bar-mitvahh’ed. Lalu, setiap paginya ia menempatkan Tefilin, kotak hitam berisi ayat Taurat.
Namun, kebiasaan itu tidak berlangsung lama. Awalnya, ayah Yacov bertengkar dengan anggota jamaah lain. Sejak itu, ayah menolak untuk mendatangi sinagoga.
Tak berselang lama, ayahnya memutuskan untuk memeluk agama Kristen. Putusan itu lantaran diajak temannya. Ibunya enggan menerima keputusan suaminya itu, dan akhirnya mengajukan cerai. Masa-masa ini merupakan yang terberat dalam hidup Yacov.

“Keputusan ayah banyak berpengaruh padaku. Saya sendiri bingung, sebenarnya apa Yahudi itu apakah bangsa, budaya atau agama. JIka bangsa, mengapa orang Yahudi selalu menjadi warga negara kelas dua. Jika agama, mengapa setiap doa dibacakan dalam bahasa Ibrani. Lalu jika budaya, jika seseorang berhenti menjadi Yahudi maka ia berhenti berbicara bahasa Ibrani dan mempraktekan tradisi Yahudi,”
tanya Yacov.
Pertanyaan lain yang mengemuka dalam pikiran Yacov adalah mengapa Ibrahim disebut Yahudi padahal ia hidup sebelum Taurat diturunkan kepada Nabi Musa. Anehnya lagi, Taurat tidak menyebutkan Nabi Ibrahim sebagai orang Yahudi. Kata Yahudi sendiri berasal dari nama salah satu dari 12 anak Nabi Yakub, yakni Yehuda.
“Dalam tradisi Yahudi sendiri, ketika ibunya seorang Yahudi, maka anda dapat menjadi orang Yahudi meski memeluk agama Kristen atau atheis. Sejak itu, saya mulai menjauh dari tradisi Yahudi, karena saya tidak puas lantaran terlalu banyak tanda tanya,” ujarnya.
Sejenak menjauh dari tradisi Yahudi, Yacov mulai terpesona dengan budaya asli Amerika. Mereka dinilai Yacov memiliki semangat juang tinggi menghadapi sikap jumawa kulit putih. Mereka terusir dari tanah kelahirannya sendiri. Terkucil, namun tidak berputus asa dengan keadaan.
Kondisi itu, ditangkap Yacov, seperti apa yang dialami bangsa Palestina. Selama ribuan tahun, bangsa Palestina menempati tanah suci. Kini, mereka harus digantikan orang Yahudi.
Penduduk asli terpaksa tinggal di kamp pengungsi. “Lalu saya bertanya kepada orang tua tentang apa perbedaan warga asli Amerika dan Palestina. Jawaban yang saya dapatkan adalah bangsa Palestina selalu ingin membunuh orang Yahudi lalu mengusir mereka ke laut,” ungkapnya.
Namun, Yacov tidak begitu saja menerima jawaban itu. Menurut dia, orang Yahudilah yang membunuhi warga Palestina. Bagaimana bisa, orang Yahudi menyangkal pengusiran yang dilakukannya. “Mereka memprotes adanya pembantaian etnis. Tapi mereka sendiri melakukannya. Mereka berdalih hal itu dibenarkan dalam Taurat, tapi sebenarnya tidak seperti itu,” ucap Yacov.
Memasuki jenjang sekolah menengah, Yacov mulai tertarik mendalami filsafat. Ia menghabiskan waktu membaca karya pemikir-pemikir besar, seperti filsuf Yahudi Spinoza. Ia juga membaca karya Abram Leon, tokoh komunis Belgia, yang tewas di Aushwitz. Tak ketinggalan karya Karl Marx, Lenin, Stalin, Mao Zeding dan Leon Trotsky.
“Setiap kali saya membaca Marxisme, saya merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya. Kadang saya merasa telah menemukan jawabannya, namun sebenarnya tidak,” kenang dia.
Setelah bertemu semua kelompok kiri, Yacov tidak bisa seutuhnya menerima konsep atheisme. Ia percaya, ada tujuan akhir dalam hidup ini. Agama adalah alat untuk menjembatani antara kehidupan di dunia dan kehidupan lain sesudah kematian.
Di sisi lain, ia membenci aliran fundamentalis dalam agama. “Saya masih percaya adanya agama, tapi saya merasa skeptis dengan terhadap semua agama,” paparnya.
Kekosongan itu, secara perlahan mulai terisi. Ia tidak ingat, apa yang membuatnya tertarik dengan Islam. Namun, ia pernah mendengar ibunya bercerita tentang Islam, sosok Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keturunan Ibrahim ‘Alaihissalam dari bangsa Arab.
“Saat itu saya melihat Islam hanya sebatas agama yang menyembah satu Tuhan. Tapi pandangan saya berubah, ketika sepupu saya (Chasid) mengatakan jika seorang Yahudi menjadi Muslim maka ia akan berbuat dosa. Saya sontak terkejut,” kenangnya.
Ketika tragedi 9/11, gerakan anti Islam tumbuh pesat. Awalnya, ia sadar ada sesuatu yang dilindungi. Hal itu yang membuatnya tertarik mengenal lebih dalam tentang Islam. “Saya bersyukur, tanpa mereka (media dan masyarakat), saya tidak akan mendalami Islam,” ucapnya.
Suatu hari, ia mendengar diskusi tentang fakta ilmiah dalam Injil. Sekelebat, ia bertanya, apakah Alquran memiliki fakta ilmiah didalamnya. Pertanyaan itu segera ia cari jawabannya. Ia gali informasi lewat internet. Butuh banyak artikel yang perlu ia baca guna menemukan jawaban itu. ia pun terkejut dengan apa yang ia baca.
“Al-Quran memiliki pesan moral yang luar biasa. Sangat menyenangkan ketika membacanya. Sekitar lima bulan mendalami Islam, akhirnya saya memutuskan menjadi Muslim, dan mengucapkan dua kalimat syadahat, Aku Bersaksi tiada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan Aku bersaksi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” kenang dia.
Tidak butuh waktu lama, bagi Yacov beradaptasi. Ia melihat Islam merupakan agama yang masuk akal. Islam membantunya memahami dunia. Satu hal yang ia yakini bahwa setiap agama pada dasarnya sama, tetapi telah dirusak oleh manusia dari waktu ke waktu.

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menyebut Yahudi dan Kristen guna memberitahu umat manusia untuk menyembah-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya menyebut Islam, jelas dan sederhana.”
ujarnya penuh keyakinan. kisahmuallaf.com

Kamis, 17 September 2015

Yusuf Estes, Seorang Musisi dan Pendeta yang Menjadi Muslim

Yusuf Estes
Tak sedikit yang bertanya-tanya soal keputusan pendeta Yusuf Estes memeluk Islam. Apalagi di tengah pembicaraan negatif tentang Islam dan muslim.
“Banyak orang ingin tahu, bahkan mempertanyakan secara detail mengapa saya memeluk Islam,” ujar Estes.
Estes lahir dari keluarga Kristen yang taat di Midwest, Amerika Serikat. Keluarganya secara turun-temurun membangun gereja dan sekolah di AS.
Ia menempuh pendidikan dasar di Houston, Texas. Semasa kecil, ia selalu menghadiri gereja secara teratur. Ia dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, Texas.
Keingintahuannya yang besar terkait ajaran Kristen membuatnya ingin mengunjungi gereja-gereja lain. Ia datangi gereja Metodis, Episkopal. Nazareth, Agape, Presbyterian dan lainnya.
Tak hanya itu, Estes juga mempelajari agama lain seperti Hindu, Yahudi, dan Buddha. “Saya tidak menaruh perhatian serius pada Islam. Inilah yang banyak ditanyakan oleh teman-temanku,” kenang dia.
Tak hanya tertarik dengan agama, Estes juga menaruh perhatian pada musik, utamanya musik klasik. Kebetulan, keluarganya gemar menikmati musik. Ia bahkan menjadi pengajar Keyboard pada tahun 1960 dan tiga tahun kemudian memiliki studio sendiri di Laurel, Maryland.
Seiring berlalunya waktu, bisnis yang digeluti Estes terus berkembang. Bersama ayahnya, ia membuat program hiburan dan atraksi. Ia juga membuka toko piano dan organ sepanjang jalan dari Texas, Oklahoma dan Florida.
Dari bisnis itu, Estes memperoleh pendapatan hingga jutaan dolar AS. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Pikirannya tidak merasa tenang. “Mengapa Tuhan menciptakan aku? Apa yang Tuhan inginkan?. Tapi di agamaku terdahulu, siapa pun harus percaya tanpa perlu bertanya,” tuturnya.
Satu hal yang membuat Estes merasa aneh adalah tidak terdapat kata “trinitas” dalam Injil. Masalah itu, kata dia, telah menjadi perhatian selama dua abad. Ia pernah mempertanyakan masalah ini kepada para pendeta.
Nyatanya, tidak ada jawaban yang logis. Sebaliknya, terlalu banyak analogi dan pendapat yang aneh. Untuk sementara pikiran itu teralihkan oleh kesibukannya dalam mengurusi bisnis.
Bisnis Estes terus berkembang, kali ini ia memproduksi lagu-lagu pujian dan mendistribusikannya secara gratis kepada pensiunan, rumah sakit dan panti jompo. “Memberikan siraman rohani kepada orang lain membuatku lupa dengan keraguan yang kualami,” ungkapnya.
Yusuf EstesDiawal 1991, bisnis Estes mulai merambah keluar negeri. Negara pertama yang ia kunjungi adalah Mesir.
Di negeri Piramida, Estes bertemu dengan seorang pria Muslim. Satu hal yang ada di pikiran Estes tentang Muslim, “teroris”. Estes tidak percaya ia harus berhubungan dengan sosok yang begitu ia benci.
“Mereka tidak percaya kepada Tuhan. Mereka adalah penyembah kotak hitam di padang pasir. Mereka cium tanah lima kali sehari. Sial, saya tidak ingin bertemu dengan mereka,” kata Estes menirukan ucapannya dahulu saat tiba pertama kali di Mesir.
Sikap Estes akhirnya luluh, ketika ayahnya menjelaskan sosok yang bakal ditemui. Ayahnya mengatakan calon klien yang akan ditemui memiliki kepribadian yang baik. Tapi alasan yang paling diterima Estes adalah rencana ayahnya untuk mengkristenkan setiap Muslim. “Itulah alasan kuat yang akhirnya membuat saya mau bertemu dengan pria Muslim itu,” ucapnya.
Akhirnya, Estes dan ayahnya bertemu dengan pria Muslim itu setelah kebaktian. Dengan sikap jumawa, Estes memegang erat Injil di tangannya. Ia bawa salib dengan tampilan mengilap. Detik-detik bertemu dengan kliennya itu, Estes terkejut.
“Orang ini sangat hangat. Mereka ramah sekali,” kenang Estes ketika bertemu pertama kali dengan pria tersebut. Penampilan pria ini seperti kebanyakan masyarakat Arab. Mereka kenakan jubah panjang, bersorban, dan berjanggut. Bedanya, pria ini tidak memiliki rambut.
Berikut dialog Estes dan Pria itu:
Estes: Apakah anda percaya pada Tuhan?
Pria Muslim: Ya
Estes: Apakah anda percaya Adam dan Hawa?

Pria Muslim: Ya
Estes: Bagaimana dengan Ibrahim, anda percaya kepadanya dan bagaimana ia mencoba mengorbankan putranya untuk Allah?
Pria Muslim: Ya
Estes: Bagaimana dengan Musa? Sepuluh perintah Tuhan? Membelah Laut Merah?
Pria Muslim: Ya
Estes: Bagaimana dengan nabi lain; Daud, Sulaiman dan Yunus?

Pria Muslim: Ya
Estes: Apakah anda percaya dalam Alkitab?

Pria Muslim: Ya
Estes: Apakah anda percaya pada Yesus? Bahwa ia adalah Mesiah (utusan) Allah?
Pria Muslim: Ya.
“Aku merasa lebih mudah. Ia (Muslim) siap dibaptis, hanya saja ia tidak tahu apa yang akan saya lakukan,” kata Estes.
Perbincangan itu sempat membuat Estes terkejut. Ternyata seorang Muslim percaya pada Injil. Tapi dirinya baru tahu kalau keimanan Muslim terhadap Yesus hanya sebatas utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, lahir tanpa ayah, tengah berada di langit bersama pencipta-Nya dan akan turun ketika akhir zaman tiba.
Yusuf EstesEstes tak berhenti bertanya kepada pria Muslim itu. Ia bertanya banyak hal. Dalam pikiran Estes, ada kepercayaan diri tinggi bahwa pria Muslim itu bakal menjadi penganut Kristen yang taat.
Lalu bisnisnya bakal berkembang lebih dari yang dibayangkan. “Saya minta kepada ayah untuk segera mempercepat bisnis dengan pria Muslim ini,” kata dia.
Sebelum tercapai kata sepakat, Estes mulai menjalani tugasnya sebagai misionaris. Ia temui orang miskin, lalu berbicara dengan tentang konsep ketuhanan dalam Kristen. Ia juga mengunjungi sesama pendeta dan penginjil di seluruh negara bagian Texas.
Suatu hari, ada salah seorang temannya yang mengalami serangan jantung, dan harus pergi ke Rumah Sakit Veteran. Estes mengunjunginya beberapa kali dalam sepekan. Ketika bertemu dengan kerabatnya itu, ia bertemu dengan salah seorang pasien lain yang tengah duduk dengan kursi roda.
Estes melihat pria itu begitu kesepian dan depresi. “Saya temani dia sembari mengisahkan cerita Yunus. Intinya, saya coba memberitahunya bahwa kita tidak bisa lari dari masalah karena kita sebenarnya tahu apa yang harus dikerjakan. Yang lebih penting lagi, Tuhan tahu apa yang dilakukan umatnya,” ujarnya.
Setelah berbagi cerita, pria itu lalu mendongak ke langit, lalu meminta maaf. Pria itu mengatakan kepada Estes soal penyesalan dirinya atas perbuatannya selama ini. Pria itu kemudian mengadu kepada Estes. “Ia berkata padaku, ia seorang imam Katolik. Saya sangat terkejut, apa yang terjadi di dunia ini?” kata Estes heran.
Mendengar kisah pastor itu, Estes mengajaknya tinggal bersama. Dalam perjalanan pulang, Estes dan pastor itu berbicara panjang lebar tentang kepercayaan dalam Islam.
Yang mengejutkan, pastor itu mengakui kebenaran Islam. “Ia tengah mempelajari Islam. Saya sempat terkejut. Inilah masa di mana saya akhirnya mulai menerima Islam,” kenang Estes.
Setibanya di rumah, Estes kembali melanjutkan diskusi bersama pastor itu. Ia bawa Injil James dan Injil lainnya. Ia habiskan waktu sepanjang hari untuk berbicara tentang kebenaran dalam Injil.
Pada satu titik, Estes bertanya pada pastor itu tentang Al-Quran berikut versi barunya. “Dia mengatakan pada saya, hanya ada satu Al-Quran. Tidak ada yang berubah dengan Alquran!” tutur Estes.
Melihat Estes penasaran, pastor itu menjelaskan bahwa ratusan bahkan jutaan Muslim yang tersebar di muka bumi, telah menghafal Al-Quran. Yang membuat Estes bingung, bagaimana bisa Al-Quran bisa bertahan sekian abad, sementara kitab sucinya sendiri telah berubah selama ratusan tahun. Bahkan tidak diketahui naskah aslinya. “Jadi, bagaimana bisa Al-Quran tidak berubah?” tanya Estes heran.
Pada suatu hari, sang pastor meminta Estes untuk mengantarkannya ke masjid. Di sana, Estes baru mengetahui bahwa mereka (Muslim) hanya datang untuk shalat dan pergi kemudian. Ia merasa aneh melihat mereka, yang tak bernyanyi atau menyenandungkan pujian.
Beberapa hari kemudian, pastor itu meminta Estes untuk kembali mengantarkannya ke masjid. Namun, Estes meminta pesuruhnya untuk mengantikan dirinya. Cukup lama pastor itu mengunjungi masjid, hingga memunculkan kekhawatiran Estes.
Tiba-tiba, Estes dikejutkan dengan sosok menggunakan jubah putih dan peci. “Hei, siapa anda? Apakah anda, apakah anda telah menjadi Muslim?” Estes kaget bukan kepalang.
Belum selesai dengan rasa terkejutnya dengan keputusan pastor itu memeluk Islam, giliran istrinya yang menyatakan niatnya untuk memeluk Islam. “Saya sangat terkejut. Saya tidak bisa tidur,” kata Estes.
Jelang Subuh, Estes tak lagi mampu menutupi keinginannya untuk memeluk Islam. Ia keluar rumah, lalu menemukan sepotong kayu, ia berdirikan kayu tepat di arah kiblat umat Islam. Dalam hati Estes bertanya, “Ya Tuhan, jika Kau ada di sana, bimbing aku, bimbing aku.”
Beberapa saat kemudian, Estes melihat sesuatu. Ia tidak melihat malaikat atau mendengar sesayup suara. Ia melihat dirinya sudah berubah. Ia melihat dirinya sudah seharusnya menghentikan perbuatan bodoh dan melakukan sesuatu yang licik.
Selanjutnya, Estes membersihkan dirinya. Sekitar pukul 11.00 pagi, ia berdiri di depan dua saksi, salah satunya si mantan pastor—yang dikenal sebagai Bapa Peter Jacob—dan lainnya Abdel Rahman. Estes lalu mengucapkan dua kalimat syahadat.
Aku bersaksi, tidak ada tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah,” ucap Estes mantap. Selanjutnya, giliran sang istri mengucapkan dua kalimat syahadat. Beberapa bulan kemudian, giliran ayah Estes mengucapkan dua kalimat syahadat.
Tak lama setelah ayahnya, giliran ibunya mengakui bahwa Yesus bukanlah anak Tuhan. Ia adalah nabi. “Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerima keimanannya,” kata Estes.
Estes begitu cepat beradaptasi dengan status barunya. Seluruh kegiatan bisnis yang ia lakukan dimodifikasi dengan menjadi medium untuk menyebarkan syiar Islam. Ia juga membangun sekolah-sekolah guna mendidik para Muslim mendalami Al-Quran. “Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membimbing kita menuju kebenaran. Aamiin,” pungkasnya. kisahmuallaf.com